DIABETES MELLITUS

1.1 Pengertian Diabetes Melitus
            Menurut Barbara C. Long Diabetes Melitus adalah penyakit kronis yang kompleks yang mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, lemak, dan berkembang menjadi komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis.
            Menurut Brunner dan Sudart Diabetes Melitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat.
1.2 Klarifikasi Diabetes Melitus
1.      Diabetes Melitus Tipe 1 atau Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM)
·         Sekitar 10 % orang yang mengidap diabetes memiliki diabetes tipe i atau diabetes yang bergantung pada insulin.
·         Tubuh mereka tidak memproduksi insulin dan karenanya suntikan insulin secara teratur dibutuhkan untuk memelihara gula darah yang normal.
·         Juvenille Diabetes seringkali muncul tiba0tiba di masa kanak-kanak sampai remaja dari usia 8-18 tahun. Walaupun, ada juga beberapa kasus yang muncul saat seseorang sudah dewasa sebelum 40 tahun.
·         Gangguan ini ditandai dengan adanya hiperglikemia (meningkatnya kadar gula darah).
·         Terdapat ketidakmampuan prankeas menghasilkan insulin sendiri karena hancurnya sel-sel beta pulau langerhans, efeknya kadar gula darah pun melonjak drastis.
·         Diabetes tipe 1 biasanya memiliki tubuh normal dan tidak gemuk.
·         Diabetes tipe 1 terjadi karena kelainan genetik yang menyebabkan kesalahan reaksi sistem imun tubuh pada proses produksi insulin oleh prankeas.
2.      Diabetes Melitus Tipe 2 atau non-insulin dependent Diabetes Melitus (NIDDM)
·         Sekitar 85% orang yang mengidap diabetes memiliki diabetes tipe 2 atau diabetes yang tidak bergantung pada insulin.
·         Tubuh mereka memproduksi sejumlah insulin, tetapi itu tidak mencukupi atau cacat.
·         Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh sulit menggunakan insulin dalam mengkontrol kadar gula darah, hal tersebut terjadi karena sel-sel tubuh tidak peka terhadap insulin atau apabila prankreas tidak menghasilkan insulin dalam jumlah memadai.
·         Efeknya merasa lemas karena karbohidrat (glukosa) yang dikonsumsi tidak bisa diubah jadi energi.
·         Kadar gula yang tinggi pun berdampak pada gangguan kesehatan dan komplikasi diabetes seperti jantung, stroke, ginjal, bahkan kebutaan.
·         Biasanya penderita diabetes tipe 2 tidak mutlak membutuhkan suntikan insulin karena prankeasnya masih bekerja menghasilkan insulin, walaupun dengan jumlah yang tidak memadai
·         Pengaturan pola makan dan aktivitas fisik pun terbukti efektif dalam mencegah komplikasi diabetes.
3.      Diabetes Gestasional
Apa yang terjadi saat gestasional diabetes menyerang ?
·         Awalnya, darah ibu akan membawa ekstra glukosa ke janin.
·         Janin akan menghasikan lebih banyak insulin untuk mengolah kelebihan glukosa.
·         Kelebihan glukosa tersebut juga akan disimpan sebagai lemak.
·         Janin akan tumbuh lebih besar dari normal, bahkan bisa sampai mencapai 4 kg atau lebih ketika lahir.
·         Diabetes gestasional ini biasannya akan menghilang setelah melahirkan, namun bukan tidak mungkin akan muncul kembali di kehamilan berikutnya.
·         Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mengalami gestasional dibetes pun umumnya tumbuh menjadi anak yang lebih gemuk serta memiliki tekanan darah yang lebih tinggi.           
1.3 Tanda dan Gejala Diabetes Melitus
Pada tahap awal diabetes melitus sering ditemukan :
1. Poliuri (banyak kencing)
2. Polidipsi (sering haus)
3. Poli pagi (sering lapar)
4. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang, dan mata kabur.
1.4 Komplikasi Diabetes Melitus
1. Komplikasi Akut
a.       Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan yang terjadi apabila kadar gula darah terlalu rendah, yaitu lebih rendah dari 70 mg/dl. Akibatnya, tubuh dan otak tidak memiliki cukup energi untuk berfungsi dengan baik. Hipoglikemia dapat terjadi karena ketidakseimbangan antara makanan yang dimakan, aktivitas fisik yang berlebih, dan obat atau insulin yang digunakan.
b.      Ketoasidosis Diabetik
Ketoasidosi diabetik merupakan kondisi serius yang dapat mengakibatkan koma bahkan kematian. Komplikasi ini dapat terjadi pada semua diabetesi meskipun terjadi lebih jarang di para penderita diabetes tipe 2. Gejala pada ketoasidosis biasanya berlangsung lambat, tetapi ketika mulai muntah, kondisi yang mengancam jiwa ini dapat terjadi dalm beberapa jam.
2. Komplikasi Kronis
a.  Penyakit Jantung dan Stroke
Orang yang dengan diabetes tipe 2 memiliki risiko 2,5 kali lebih besar mengalami serangan jantung & stroke dibandingkan orang normal, karena diabetes meningkatkan kecendrungan mereka untuk mengalami hipertensi dan pembentukan piak, gumpalan yang menyumbat di pembulu darah.
b.  Masalah Sirkulasi
Sakit dikaki ketika berjalan kaki atau berolahraga yang hilang dengan istirahat. Mati rasa atau kesemutan dibagian bawah kaki, luka atau infeksi dikaki yang sulit sembuh. Mungkin tidak merasakan sakit sehingga terjadi luka atau infeksi yang lebih besar karena kerusakan saraf. Inilah yang merupakan penyebab utama amputasi.

c.  Masalah Kulit
Ketika kadar gula darah Anda tinggi, tubih akan kehilangan air, sehingga kulit akan menjadi kering. Kerusakan saraf yang disebabkan oleh diabetes dapat menghambat proses berkeringat (keringat membantu kulit tetap lembut dan lembap). Saat mengaruk kulit yang kering dan gatal sehingga luka, luka ini dapat menjadi jalan masuk kuman dan menyebabkan infeksi.
d. Kerusakan Mata
     Tiga masalah mata yang berhubungan dengan diabetes adalah :
·         Retinopati diabetic ini merupakan jenis yang paling umum dijumpai dan dapat menyebabkan kebutaan. Jika Melihat spot-spot hitam yang bisa hilang tanpa diobati, tetapi sering muncul mengalami gejala awal retinopati diabetik.
·         Retinopati diabetik diakibatkan oleh rusaknya pembuluh darah yang mengaliri retina. Bentuk kerusakan bisa bocor dan keluar cairan/darah yang membuat retina bengkak atau timbul endapan lemak/eksudat.
·         Glaukoma, diabetes memiliki resiko 40% untuk menderita glaukoma. Penglihatan perlahan-lahan hilang karena retina dan saraf rusak. Ada beberapa pengobatan untuk glaukoma, yaitu obat-obatan untuk menurunkan tekanan di mata dan pembedahan.
·         Katarak, diabetesi berisiko 60% lebih besar untuk mengalami kondisi ini, untuk mengobati katarak, dokter akan melakukan pembedahan untuk mengeluarkan lensa mata yang terserang katarak dan memasukkan lensa pengganti baru.
e. Penyakit Ginjal atau Nefropati Diabetik
·         Sekitar 20-40% pasien diabetes akan mengalami nefropati diabetik.
·         Didapatkannya albuminuria persisten pada kisaran 30-299 mg/24jam (albuminuria mikro) merupakan tanda dini dari nefropati diabetik.
·         Pasien diabetes yang disertai dengan albuminuria mikro dan berubah menjadi albuminuria makro (> 300 mg/24jam), pada akhirnya sering berlanjut menjadi gagal ginjal kronis stadium akhir. (PERKENI, 2006)
1.5 Penatalaksanaan Medik
1. Perencanaan Makanan
Strandar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak yang sesuai dengan kecukupan gizi baik, karbohidrat sebanyak 60-70%, protein sebanyak 10-15%, dan lemak sebanyak 20-25%.
3 Prinsip utama pola makan diabetes:
·         Jumlah, jumlah makanan yang dikonsumsi disesuaikan dengan tinggi badan, berat badan, jenis aktivitas, dan juga umur. Menghitung kebutuhan kalori berdasarkan panduan di kebutuhan kalori harian.
·         Jenis, penyusunan makanan untuk penderita diabetes mencangkup karbohidrat, protein, lemak, serta buah-buahan dan sayuran. Rule of thumb untuk pengaturan pola makan diabetes dalam sekali makan yang mencangkup 1% bagian sayuran (bayam, sawi hijau, wortel dll), 1% bagian karbohidrat (terutama dengan nilai indeks glikemik rendah co: nasi merah, oat dst), 1% bagian lauk( daging, ikan, tempe, tahu, putih telor,dsb)
·         Jadwal, yaitu waktu makan tetap mencangkup makan pagi, siang, malam dan makan selingannya.
2. Latihan jasmani
Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang lebih 30 menit yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyerta. Contoh olahraga ringan adalah dengan berjalan kaki biasa selama 30 menit. Olahraga sedang berjalan cepat selama 20 menit dan olahraga berat dengan jogging.
3. Obat Hipoglikemik
a. Sulfonilurea,obat golongan sulfonylurea bekerja dengan cara menstimulasi penglepasan insulin yang tersimpan, menurunkan ambang sekresi insulin, meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa.
b. Biguanid, preparat yang ada dan aman dipakai yaitu metformin. Sebagai obat tunggal dianjurkan pada pasien gemuk dapat juga dikombinasikan dengan golongan sulfonylurea.
4. Insulin
            Indikasi pengobatan dengan insulin adalah :
a. Semua penderita DM dari setiap umur ( baik IDDM maupun NIDDM dalam keadaan ketoasidosis atau pernah masuk kedalam ketoasidosis.
b. DM dengan kehamilan/DM gestasional yang tidak terkendali dengan diet (perencanaan makanan).
c. DM yang tidak berhasil dikelola dengan obat hipoglikemik oral dosif maksimal.
d. Dosis insulin oral atau suntikan dimulai dengan dosis rendah dan dinaikan perlahan-lahan sesuai dengan hasil glukosa darah pasien. Bila sulfonylurea atai metformin telah diterima sampai dosis maksimal tetapi tidak tercapai sasaran glukosa darah darah maka dianjurkan penggunaan kombinasi sulfonylurea dan insulin.

Komentar